Area Fokus: Empiricism

Kompetensi: Memahami dan Menjalankan Scrum

Photo by Marvin Meyer on Unsplash

Untuk memahami dan menjalankan Scrum, kita mulai dengan Empiricism. Namun, sebelum melihat apa itu Empiricism, ada baiknya kita kembali dan melihat apa yang dimaksud dengan pengembangan perangkat lunak dengan Agile.

Agile Manifesto

Mungkin kita sudah sering membaca Agile Manifesto. Satu hal yang menarik untuk saya pada saat membaca kembali untuk mempersiapkan materi ini adalah “uncovering better ways,” yang saya ingin terjemahkan menjadi: terus/sedang menemukan cara yang lebih baik. Walaupun sedikit bertentangan dengan penerjemah awal ke Bahasa Indonesia, tapi menurut saya ini penting. Dengan menggunakan Present Continuous Tense, menurut saya, para visionaries Agile, mengakui bahwa dalam pengembangan perangkat lunak perlu terus-menerus dicoba dan dicari cara yang lebih baik lagi.

Empat values yang harus menjadi perhatian lebih:

  • Individu dan interaksi
  • Perangkat lunak yang bekerja dengan baik
  • Kolaborasi dengan pelanggan
  • Cepat tanggap terhadap perubahan

Bagaimana penerapannya? Lihat 12 prinsip.

Empiricism

Jadi apa yang dimaksud dengan Empiricism? Empiricism adalah bekerja berdasarkan fakta, pengalaman, dan bukti. Kemajuan pekerjaan didasarkan pada pengamatan terhadap realita.

3 Pilar Empiricism

Berikut adalah 3 pilar dari empiricism:

1. Transparansi

Transparansi berarti kita semua tahu apa yang sedang terjadi. Ini akan dicapai hanya dengan menunjukkan fakta, sebagaimana adanya. Untuk ini kita harus membangun kepercayaan satu sama lain. Kita pun harus memiliki keberanian untuk menyampaikan berita baik maupun buruk, dan tentu menerima keadaan tersebut. Semua pihak terkait harus memiliki objektif organisasi yang sama dan tidak memiliki maksud yang tersembunyi.

2. Inspeksi

Inspeksi berarti periksa pekerjaan anda sementara mengerjakannya. Inilah mengapa kita perlu menyatakan dengan jelas apa deliverables yang diperlukan untuk maju ke tahap berikutnya. Kita ingin siapapun dalam tim dapat dengan jelas mengatakan bahwa sudah selesai karena ia telah memeriksa pekerjaannya. Kita perlu melakukan inspeksi terhadap produk, proses-proses, hal-hal yang terkait dengan orang, praktek-praktek, dan continuous improvement.

3. Adaptasi

Adaptasi berarti bersedia untuk merubah arahan taktis. Inilah continuous improvement. Kita harus selalu bertanya apakah kita sudah bekerja lebih baik dari hari sebelumnya. Kita perlu kembali ke alasan mengapa kita menjalankan Scrum, seperti time to market yang lebih cepat, meningkatkan ROI dengan delivery berdasarkan nilai, mengurangi total cost of ownership dengan meningkatkan mutu perangkat lunak, dan meningkatkan kepuasan pelanggan dan pegawai.

Namun ada 3 hal yang perlu diperhatikan tentang adaptasi. Pertama, mencoba terlalu banyak perubahan. Penerapan perubahan perlu dibatasi, terutama jika yang akan dirubah cukup besar dampaknya terhadap pekerjaan tim. Lebih baik jika lakukan satu dan inspeksi, kemudian lanjutkan ke perubahan berikutnya. Kedua, tidak ada yang dapat dirubah. Dalam hal ini, tim perlu mengembalikan fokus terhadap visi yang jelas. Pikirkan tujuan bersama yang ingin dicapai. Kemudian cari hal yang menghambat laju tim terhadap visi dan tujuan tersebut. Ketiga, perubahan di tingkat tim berlawanan dengan organisasi. Agile dan Scrum mementingkan individu dan interaksi dibandingkan dengan proses dan tool. Perubahan di tingkat tim berarti individu yang berinteraksi sehari-hari telah menemukan cara bekerja yang membantu mereka menjadi lebih baik. Organisasi perlu mengakui dan menjembatani perubahan tersebut, bahkan jika harus bertentangan dengan proses dan tool standar. Kata-kata yang kita inginkan dari tim adalah, “untuk tim kami, kami menemukan bahwa …”

Hal yang sangat penting adalah empiricism diharapkan menghasilkan tim yang termotivasi. Tim yang bahagia. Tim yang termotivasi dan bahagia karena kualitas code, hubungan dekat dengan para pelanggan, terus mendapat feedback, self-organization, dan continuous improvement.

Untuk mendukung empiricism, kita perlu cara baru dalam delivery solusi IT. Bukan yang mengutamakan waktu, bukan yang mengutamakan biaya. Tapi yang mengutamakan kualitas. Jika kita terlalu memikirkan waktu, jika kita terlalu menghargai kecepatan delivery, orang akan mencari cara untuk memotong jalan pada setiap kesempatan yang mereka dapat. Jika kita memikirkan kualitas, dengan slicing yang tepat dan mempertimbangkan nilai bisnis, kita dapat men-deliver dengan lebih baik, waktu dan biaya akan secara otomatis menjadi lebih baik.

Termostat

Photo by Will Malott on Unsplash

Empiricism adalah seperti termostat. Termostat bekerja dengan mengukur suhu (inspeksi) lalu menyesuaikan (adaptasi) dengan pengaturan (tujuan/goal). Agar manfaatnya dapat dirasakan dengan baik, termostat harus sering mengukur dan menyesuaikan suhu (frequently). Termostat akan bekerja dengan sesuai, kita kondisi di sekitarnya sesuai. Tidak ada benda lain di sekitarnya yang mempengaruhi suhu. Lingkungan harus apa adanya (transparansi).

Kesimpulan. Empiricism, landasan Scrum, adalah bekerja berdasarkan fakta, pengalaman, dan bukti. Ada 3 pilar Empiricism: Transparansi, kita semua tahu apa yang sedang terjadi; Inspeksi, periksa pekerjaan anda sementara mengerjakannya; Adaptasi, bersedia untuk merubah arahan taktis. Inspeksi dan adaptasi harus sering dilakukan terhadap tujuan bersama pada lingkungan yang transparan.

Slide Presentasi: https://speakerdeck.com/alternat0/empiricism

Credits:

  • Translated to Indonesian based on Scrum Master Learning Path, Understanding and Applying Scrum competency, Empiricism focus area by scrum.org
  • Some explanation based on Dicle Akay’s comments

Mouse-Clicking Expert, specialized in Process Hacking and People Development

Mouse-Clicking Expert, specialized in Process Hacking and People Development